Cher Ami: Merpati yang Menyelamatkan the Lost Battalion

August 25, 2020

“Merpati tidak pernah ingkar janji.”Mungkin ungkapan itu cocok untuk seekor burung merpati yang memiliki jasa besar dalam menyelamatkan hampir 200 tentara Amerika yang terjebak di garis pertahanan musuh pada saat Perang Dunia Pertama (PD I) atau yang lebih dikenal dengan the Lost Battalion.

Cher Ami seekor merpati betina dan salah satu dari sekitar 600 ekor merpati pengantar pesan yang dimiliki oleh pasukan sinyal Amerika selama PD I di Perancis. Burung merpati digunakan karena dirasa lebih efisiien daripada radio kabel yang berukuran besar dan membutuhkan banyak kabel dan juga membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki. Meskipun demikian, bukan berarti merpati adalah pilihan yang aman karena jika mereka ditembak jatuh oleh musuh, pesan yang dibawa dengan mudah akan jatuh ke tangan musuh.

Pada Penyerangan Meuse-Argonne 1918, keberanian dan kegigihan merpati pembawa pesan terlihat. 2 Oktober 1918, tentara Amerika dari divisi ke77 dipukul mundur sangat jauh ke dalam Argonne Forest Perancis dan terjebak di belakang garis pertahanan Jerman di lereng bukit. Jauh dari jangkauan sinyal radio mereka menyadari satu-satunya cara berkomunikasi hanya menggunakan merpati pegantar pesan meskipun langit adalah tempat yang mengerikan dengan serangan senapan mesin milik Jerman. Selama beberapa hari, pasukan yang dipimpin oleh Mayor Charles Whittlesey mempertahankan posisi mereka dari serangan tentara Jerman dan hujan.

4 Oktober 1918, senjata artileri berat milik Amerika memborbardir posisi mereka dan tidak sengaja membunuh 30 orang tentara mereka sendiri. Mayor Whittlesey dan pasukan yang tersisa menyaksikan bagaimana merpati pengantar pesan mereka jatuh satu demi satu terkena serangan Jerman. Dalam keadaan putus asa, Mayor Whittlesey mengirim merpati pengantar pesan terakhir mereka yang bernama Cher Ami ke pasukan Amerika yang berada di markas dengan sebuah pesan singkat yang berisi “We are along the road parallel to 276.4. Our own artillery is droping barrage directly on us. For heaven’s sake, stop it.” Dengan senjata Jerman yang siap menghujaninya, Cher Ami menjadi harapan terakhir bagi the Lost Battalion.

Cher Ami dengan gagah berani terbang menghindari peluru-peluru musuh, namun keberuntungannya tidak bertahan lama. Tidak lama setelah dia terbang sebuah peluru mengani tepat di dadanya dan membuatnya jatuh ke tanah yang menjad pemandangan mengerikan bagi tentara Amerika melihat harapan mereka telah jatuh ke tanah. Namun dengan kegigihannya, Cher Ami bangkit kembali. Cher Ami terbang menghadapi hujan peluru Jerman. Akhirnya Cher Ami berhasil melewati mimpi buruk tersebut dan terbang sejauh 25 mil selama kurang lebih setengah jam. Dia sampai di markas tentara Amerika dengan selamat meskipun mendapat luka yang sangat berat. Sebuah peluru bersarang di dadanya, kaki kanannya hancur terkena serangan Jerman dan salah satu matanya buta. Tim medis langsung mengobati dan merawat luka yang di derita Cher Ami. Dengan pesan yang dibawa Cher Ami, pasukan Amerika berhenti menghujani posisi the Lost Battalion dengan artileri. Keesokan harinya, artileri mulai menghujani posisi Jerman dan keadaan akhirnya berbalik kea rah pasukan Amerika. Pada 8 Oktober 1918, 194 tentara berhasil kembali ke markas pasukan Amerika berkat perjuangan dan pengorbanan Cher Ami. Atas jasanya yang berhasil menyelamatkan divisi ke77, Cher Ami diberi penghargaan Croix de guerre, salah satu penghargaan tertinggi dari Militer Perancis bagi mereka yang berjasa dan gagah berani di medan perang. Cher Ami kembali ke Amerika dan dirawat oleh pelatihnya Cpt. John Carney. Pada 13 Juni 1919, Cher Ami menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang dari luka yang dia terima selama perang. Sulit untuk dikatakan berapa banyak keluarga yang berutang budi pada kegigihan dan pengorbanan seekor burung pemberani tersebut. Cher Ami yang memiliki arti “Teman tersayang” telah menyelesaikan tugas terakhirnya.

Artikel asli: https://www.worldwar1centennial.org/index.php/communicate/press-media/wwi-centennial-news/1210-cher-ami-the-pigeon-that-saved-the-lost-battalion.html

Editor & Penerjemah: Muhammad Al Fauzan

    leave a comment