Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945

August 25, 2020

Pada fajar di bulan Ramadhan hari Jumat 17 Agustus 1945, para pemimpin bangsa dan tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda penuh dengan kebanggaan setelah selesai merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu juga di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pukul 10 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para pemuda yang bekerja di pers dan kantor-kantor berita untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Soewirjo, Wakil Walikota, telah meminta kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti alat pengeras suara yaitu mikrofon. Sedangkan S. Suhud ditugaskan oleh Sudiro untuk mempersiapkan satu tiang bendera. Ketika melakukan tugas tersebut, Suhud merasa tegang dan tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno terdapat dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan dan malahan mencari sebatang bambu yang terletak di belakang rumah. Setelah mendapatkan bambu yang diinginkan, bambu tersebut dibersihkan kemudian diberi tali dan ditanam beberapa langkah dari teras rumah.

Bendera yang telah dijahit oleh Nyonya Fatmawati Soekarno sudah disiapkan. Pada awalnya kain tidak disiapkan untuk bendera sehingga kain yang dipakai untuk bendera tersebut tidak berukuran sempurna dan menghasilkan bentuk dan ukuran bendera yang tidak standar.

Rakyat ramai berkumpul di rumah Soekarno untuk menyaksikan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dalam keramaian tersebut terlihat juga beberapa pemuda yang berbaris dengan rapih bersama para rakyat. Meskipun mereka bahagia akan dilaksanakannya Proklamasi, mereka khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang.

Matahari semakin meninggi tetapi Mohammad Hatta belum juga hadir. Proklamasi tidak dapat dilaksanakan tanpa kehadirannya. Para hadirin pun tidak sabar dan para pemuda mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks Proklamasi tetapi Bung Karno tidak menghiraukan paksaan mereka dan tetap ingin menunggu Mohammad Hatta. Dalam keadaan sakit pun Bung Karno tetap menunggu temannya.

Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian.  Ia juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.  Marwati Djoened Poesponegoro melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu.

Upacara itu berlangsung sederhana, tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA, segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi.

“Saudara-saudara sekalian! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil  nasib bangsa dan nasib tanah air  kita  di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang  berani mengambil nasib dalam tangan  sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia, permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah  datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: PROKLAMASI; Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta. Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka.  Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.”

Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak:  lebih baik seorang prajurit, katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari  atas baki  yang  telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat. Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.

Setelah upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi mengemukakan bahwa ada sepasukan  barisan pelopor yang berjumlah kurang  lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki  halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung Karno membacakan Proklamasi sekali lagi.  Mendengar teriakan itu Bung Karno tidak sampai  hati,  ia  keluar  dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar keterangan itu Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi  amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi.

Selesai  upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.   Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, menurut Lasmidjah Hardi datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan menunggu di ruang belakang, tanpa  diberi kursi. Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga terpaksa berpakaian  lagi. Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno. “Kami diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi.”  “Proklamasi sudah saya ucapkan,” jawab Bung Karno dengan tenang.  “Sudahkah?” tanya utusan Jepang itu keheranan.  “Ya, sudah!” jawab Bung Karno. Di sekeliling utusan Jepang itu, mata para pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit.

Sementara itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu,dokumentasinya hanya ada tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran  bendera, dan sebagian  foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.

Peristiwa besar bersejarah yang telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung hanya satu jam, dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan yang luar biasa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Gema lonceng kemerdekaan terdengar ke seluruh pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia.

Para pemuda, mahasiswa, serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei, sekalipun telah disegel oleh pemerintah Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia. 

Dirgahayu Indonesiaku!

Artikel asli: https://www.setneg.go.id/baca/index/membuka_catatan_sejarah_detik_detik_proklamasi_17_agustus_1945

Editor: Ranachansa Kamilia Balqis

    leave a comment